📰 Ora Sambat, Ora Semangat ✍️ Renungan Musim Hujan 📸 Sekolah Petani 🎤 Penerbang Layang-layang 🗞️ Fotografi Analog 📰 Ora Sambat, Ora Semangat ✍️ Renungan Musim Hujan 📸 Sekolah Petani 🎤 Penerbang Layang-layang 🗞️ Fotografi Analog

Dunia Rangrang

“Mereka rangrang dahan atas.”

“Minggir, minggir, ayo kita cepat minggir.”

“Seharusnya koloni segera mengesahkan peraturan pembeda jalur antara kita dengan mereka, para rangrang dahan atas!”

Hampir semua rangrang dahan bawah menggerutu sembari berjalan meminggir. Mereka adalah para rangrang pekerja, rangrang penjaga, dan juga rangrang betina infertil yang bertugas mengurus telur-telur di sarang. Meski rombongan rangrang yang mereka kata-katai mempunyai status peringkat yang sama, para rangrang dahan bawah selalu berlaku angkuh. Mereka mendaku diri sebagai rangrang kelas satu dalam koloni. Tidak hanya di satu pohon mangga ini, di seluruh Koloni Tenggara yang meliputi seperempat jumlah pohon, dari ratusan pohon di kebun mangga ini. Rangrang penghuni sarang dahan bawah merasa demikian.

Sementara rangrang dahan atas mendapat stigma rangrang rendahan yang selalu dipinggirkan dalam setiap bagian kehidupan. Termasuk dalam pencarian serta distribusi makanan. Hal ini disebabkan sebuah legenda tua di dunia rangrang bahwa nenek moyang para rangrang dahan atas merupakan rangrang-rangrang lemah. Itulah sebabnya pendiri koloni menempatkan mereka semua di dahan atas sebagai sarana latihan agar mereka tumbuh menjadi rangrang yang kuat. Karena dengan begitu mereka diharuskan berjalan sangat jauh kala mencari makanan. Termausk ketika mencari madu-madu nektar bunga yang bernilai tinggi serta penuh gizi yang berada di bawah pohon.

Entah sedari kapan, legenda dengan maksud mulia itu bergeser menjadi cerita provokatif yang menempatkan para rangrang dahan atas sebagai masyarakat kelas dua. Oh ya, tidak hanya bagi rangrang pekerja, penjaga, serta perawat saja yang dipandang rendah. Para ratu rangrang dahan atas juga mendapat perlakuan serupa.

Saat pohon lekas berbunga pun, pergerakan rangrang dahan atas dibatasi oleh aturan dekriminatif bahwa mereka hanya boleh memanen nektar bunga mangga terdekat dari sarang-sarang mereka. Terbatas hanya seluas lima kali besar sarang. Tentu saja itu jarak yang teramat sempit. Sementara diluar itu, nektar bunga mangga akan diambil oleh para rangrang dahan bawah, dimana separuhnya akan disetorkan untuk persediaan makanan koloni.

“Dasar, apa sebenarnya salah kita Budu? Apa nenek moyang kita adalah seorang pendosa hingga kita dipandang rendahan? Kalaupun iya itu kan nenek moyang, bukan kita!” gerutu Manjo, seekor rangrang pekerja muda kepada Budu, rangrang penjaga tua yang selalu mengikuti rombongan rangrang dahan atas ketika turun mencari makanan.

“Aku tidak mau tahu itu, Manjo. Perhatikan saja langkahmu, dan jangan pedulikan mereka. Barangkali semilir angin yang sejuk di musim kemarau dapat menyadarkan mereka. Hahahaha.” Budu terkekeh. Meski tergolong rangrang tua, ia masih nampak segar bugar dengan tubuhnya yang berisi, berwarna legam kemerahan. Gigitan gigi tajamnya bahkan masih bisa membuat anak manusia merasa kesakitan dua hari lamanya.

“Tapi mereka tidak pernah belajar!” ujar Manjo dengan geram. Sepasang giginya berkeretak.

Dalam satu koloni rangrang terdiri dari ribuan sarang yang tersebar di banyak pohon. Sementara dalam satu pohon terdapat belasan hingga puluhan sarang rangrang. Biasanya rangrang dahan atas mempunyai jumlah sarang cukup banyak. Seperti halnya pohon tempat Manjo dan Budu hidup ini. Jumlah sarang dahan atas ada tujuh, sementara dahan bawah hanya empat. Meski begitu, selama ini rangrang dahan atas lebih memilih diam dalam ketertindasan. Karena jika melawan dan gagal akan sangat memalukan.

Peristiwa terbaru yang menjadi pertimbangan untuk tetap diam adalah adanya tiga sarang rangrang dahan atas di pohon sebelah, yang mencoba memberontak melawan deskriminasi para rangrang dahan bawah. Nahasnya mereka kalah jumlah, rangrang dahan bawah memenangkan pertarungan, dan petinggi koloni menghukum sisanya dengan pengusiran paksa keluar koloni. Hingga para rangrang malang tersebut habis menjadi makanan burung-burung. Sementara kasus pemberontakan lainnya yang terjadi jauh sebelum itu, berakhir dengan kejadian hampir serupa. Karena meski menerima perlakuan deskriminatif, rangrang dahan atas merasa tempat teraman tetap dalam koloni.

Satu minggu berselang, para ratu sarang dahan atas memerintahkan penimbunan banyak makanan karena periode reproduktif akan segera dimulai. Rangrang dahan bawah menggunakan hal ini sebagai cemoohan bahwa selain rendahan, rangrang dahan atas ternyata juga rakus nan serakah. Meski menahan geram menerima penghinaan yang terus bergema kala mereka menngumpulkan makanan, rangrang dahan atas berusaha tidak peduli. Mereka memercayai kebijaksaan ratu-ratu mereka.

Keesokan lusanya, pada siang yang mendung, langit berangsur-angsur mengggelap gulita. Gelegar cambuk-cambuk petir menggetarkan setiap yang mendengarnya. Lidah-lidah kilat menjulur kesana kemari bagai lidah kobra yang ganas. Hingga tiba-tiba tetesan air terjun dari langit sangat deras. Bulir tetesan hujan kali ini besar-besar sampai-sampai menggetarkan markas besar koloni yang teramat kuat sekalipun. Ini kali pertama markas koloni sampai bergetar akibat tertimpa bulir air hujan.

Sesuatu yang tak dinyana datangnya, ternyata adalah angin badai yang berhembus dari selatan. Anginnya berhembus begitu kencang hingga pohon-pohon di kebun ini menari-nari. Seolah-olah akan tercerabut dari akarnya. Tidak seolah-olah, badai ini memang mencabut banyak pohon mangga di kebun ini dari akarnya.

Dua, lima, enam, sembilan. Ada sembilan pohon tumbang dalam wilayah Koloni Tenggara, termasuk pohon yang dihuni Manjo dan Budu. Pohon mereka tergelempang, menajtuhkan ribuan para rangrang dahan bawah yang eltis nan borjuis. Para rangrang kelas atas yang ternama, kaya raya, dan terpandang. Sementara hanya sedikit rangrang dahan atas yang terjatuh, lantaran meski sarangnya hancur, mereka masih bisa bergelantungan di antara batang-batang pohon serta lebatnya dedaunan. Pada kenyataanya rangrang dahan bawah hanyalah rangrang biasa yang tidak ada bedanya dengan rangrang dahan atas yang mereka daku sebagai masyarakat kelas dua. Para rangrang dahan bawah yang selamat akhirnya memanjat ke atas meminta pertolongan. Tapi kaki-kaki rangrang penjaga dahan atas refleks menendangi mereka agar kembali terjatuh ke bawah. Tentunya tidak semua diperlakukan demikian.

Cerita pendek oleh Zea Mays, circa2021

Bagikan artikel ini:

WhatsApp

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *