📰 Sensible Medical insurance Preparations ✍️ Potential_rewards_bloom_with_each_step_in_the_chicken_road_game_but_knowing_when 📸 Remarkable_opportunities_and_glory_casino_await_ambitious_players_today 🎤 Coronavirus disease 2019 🗞️ Ora Sambat, Ora Semangat 📰 Sensible Medical insurance Preparations ✍️ Potential_rewards_bloom_with_each_step_in_the_chicken_road_game_but_knowing_when 📸 Remarkable_opportunities_and_glory_casino_await_ambitious_players_today 🎤 Coronavirus disease 2019 🗞️ Ora Sambat, Ora Semangat

Kekuatan

Pada suatu pagi hari di sebuah rumah sederhana, dimana hujan turun dengan derasnya. Semilir angin sejuk menyusup melalui ventilasi menjalar ke seluruh sudut rumah. Seorang pemuda beranjak dari kursi, melangkah menuju jendela samping yang tadi dibuka. Ia kemudian menutupnya kembali lantaran suhu dingin semakin menjadi. Ditambah suara hujan yang keras menganggu pendengarannya kala menyimak penjelasan dosen.

“Jadi saya rasa cukup kuliah hari ini.” Suara si Dosen terdengar dari celah laptop. Kelas pagi telah usai. Tapi nanti masih ada kelas sore. “Jangan lupa dikerjakan tugasnya, wassalamu’alaikum warrahmatullohi wabarakatuh.”

“Wa’alaikumsalam.” Kompak semua menyalakan mic yang sedari tadi di senyapkan.

Ada di antara mereka yang berterima kasih, ada pula yang sejak pertengahan kelas sudah keluar dan tak kunjung kembali. Alasan umumnya sih susah sinyal. Entah sinyal internetnya atau sinyal kejujurannya, tidak ada yang tahu itu.

“Vin! Gavin  ….” Suara Ibu terdengar memanggil-manggil dari arah dapur.

“Ya.” Sosok anak yang dipanggil masih sibuk menulis materi yang dianggap penting dalam buku catatan. Gavin kelewatan mencatat beberapa hal dalam materi perkuliahan hari ini.

“Tolomg pasangin gas Nak. Gasnya habis,” jawab ibunya masih dari dapur.

Gavin beranjak dari kursi. Ia bergegas melangkahkan kaki menuju dapur. Ibunya memang tidak bisa memasang gas, dan Gavinlah yang sering menggangti gas di rumah karena ayahnya setiap hari bekerja di sebuah percetakan koran lokal.

Selama Pandemi Covid-19 melanda sejak awal tahun, sampai akhirnya dikeluarkannya kebijakan mengenai bekerja juga sekolah dari rumah. Gavin kerap kali hanya di rumah saja. Ia jadi jarang keluar jika tidak ada kepentingan. Seperti acara bersama teman, nonton sepak bola sore di lapangan, atau sesekali mengunjungi kampusnya di kota sebelah dalam rangka kegiatan tertentu.

“Kalau di suruh mesti lambat kamu ya, orang Ibu sibuk masak. Tuh liat tahunya jadi berenang di minyak karena gas abis.” Sudah menjadi kebiasaan, Ibu selalu saja suka ngomel dengan anaknya satu ini.

Gavin pun sudah terbiasa dengan ibunya yang bisa dibilang cerewet. Ibu-ibu umumnya memang suka mengomel. Tapi Ibu Gavin bukan suka lagi, namun lebih ke hobi.

“Ya kan kuliah Bu,” jawabnya sambil memasang gas melon ke regulator. Saking terbiasanya, Gavin sering acuh tak acuh dengan omelan ibunya itu.

“Setiap hari kok kuliah. Kayaknya sebelum pandemi kamu setiap di telepon katanya cuma rebahan di kost.”

Gavin menghela napas sebentar. “Sekarang banyak tugasnya, karena cuma di rumah doang kuliahnya.”

Si Ibu tidak meneruskan pembicaraan. Ia nampaknya memahami bagaimana kesibukan kuliah anaknya. Setelah pasang gas selesai, Gavin melangkah keluar berniat meneruskan mencacatnya, sekaligus mengerjakan tugas.

“Oh ya si Eri mana ya? Tolong panggilin Vin. Suruh bantuin ibu masak,” pesan ibunya sebelum Gavin melangkah terlalu jauh.

Tidak ada jawaban dari Gavin, namun ia akan langsung memanggil adik perempuannya itu.

“Ri, suruh bantuin ibu masak noh!” teriak Gavin di depan kamar si Adik.

Hari ini ada jadwal sekolah bagi Eri, ia kelas satu SMA. Tapi hanya jadwal kelas lewat grup whatsapp. Selain itu tidak ada tugas juga beberapa hari ini. Jadi Eri yang sedang gandrung nonton anime, acapkali memanfaatkan alasan sekolahnya agar tidak disuruh-suruh.

“He ngarang lu.” Bukannya mengiyakan, Eri justru mencemooh kakaknya.

“BUU!”

“Iya, iya.” Dengan wajah jutek dan setengah kesal, Eri meletakkan ponselnya lalu segera keluar kamar tanpa menghiraukan Gavin yang masih di dekat pintu.

Malam harinya, seperti malam-malam sebelumnya. Keluarga kecil ini selalu berkumpul di ruang keluarga sempit. Persisnya bukan ruang keluarga, hanya sebuah ruang tamu yang disekat almari dan kelambu di tengahnya. Jadi bagian depan dijadikan ruang tamu dengan kursi-kursi dan meja, lalu bagian belakangnya dijadikan ruang keluarga dengan satu kursi santai sepanjang satu setengah meter, yang di depannya terdapat kasur lantai tipis bolong-bolong dan beeberapa bantal lusuh.

Ibu tengah menonton serial televisi favoritnya sambil duduk di kursi. Semenara Gavin dan Eri kerapnya hanya bermain ponsel sembari rebahan santai.

Pukul 19.00. Suara motor terdengar di samping rumah. Bapak sudah pulang dari kantor. Biasanya jika pulang telat, pekerjaan Bapak sedang banyak atau ia akan menyiapkan keperluan percetakan esok harinya.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.” Kompak semua yang ada di rumah menjawab salam. Gavin dan Eri segera mencium tangan bapaknya yang baru pulang. Setelah berganti baju yang lebih santai, Bapak segera mengahmbur dengan keluarganya ini. Terlihat raut mukanya lebih berat dari biasanya. Ia duduk di kursi samping ibu. 

“Heehh ….”

“Ada apa Pak, kurang enak badan?” tanya Ibu memerhatikan.

“Maaf ya, Bapak dipecat dari pekerjaan.” Tangannya diusapkan ke wajah berulang kali.

“Kok bisa sih Pak?” Suara Ibu yang keras merespon terlebih dulu mendengar apa uang dikatakan suaminya. Sementara kedua anaknya mengiyakan pertanyaan ibu mereka.

“Katanya sih pandemi membuat penjualan koran menurun drastis. Jadi terpaksa mengurangi pegawai. Bahkan rencananya koran cetak akan dihentikan produksinya,” terang Bapak dengan suara berat serta perasaan kecewa. Sebagai kepala rumah tangga, Bapak sebetulnya sudah was-was begitu pandemi menyerang mengacaukan seluruh lini kehidupan. Bayangan dipecat dari pekerjaan seringkali menghanuti pikirannya, dan ketakutannya pun menjadi kenyataan. Ia kini tidak tahu harus apa untuk menccukupi kebutuhan keluarga kedepannya.

“Yah terus gimana kita?” Suara Ibu terdengar panik bercampur rasa tidak percaya.

Bapak yang melihat gelagat istrinya terlalu berlebihan, apalagi di depan anak mereka, secara tidak langsung memberitahunya untuk menghentikan pembicaraan. Tapi Gavin dan Eri seolah paham akan apa yang sedang menimpa orang tua mereka. Dengan alasan melanjutkan nugas dan mengecas ponsel, mereka berdua segera beranjak menuju kamar masing-masing. Sebelum masuk, Eri menatap kakaknya tanpa berkata apaun seolah melempar tanya apa yang harus mereka lakukan sebagai seorang anak, dan kakaknya yang balik menatapnya seolah menjawab tidak tahu. Untuk saat ini.

Setelah lulus SMK Jurusan Mesin, Gavin mencoba peruntungan dengan mendaftar kerja. Tapi salah satu guru jurusannya melihat potensi Gavin pada bidang akademik tidak boleh disia-siakan. Ia membujuk Gavin untuk mendaftar beasiswa pada perguruan tinggi teranama di kota sebelah. Hingga askhirnya Gavin lolos dan meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi tersebut mengambil jurusan yang sejalan dengan jurusan SMK-nya, Teknik Permesinan, dan kini sudah memasuki semester empat.

Saat pandemi melanda, kampus mengeluarkan kebijakan yang mewajibkan mahasiswanya belajar secara daring. Maka Gavin memutuskan pulang kampung, lagipula awal semester baru tidak banyak kegiatan praktek. Meski orang tuanya tidak menanggung biaya kuliah sama sekali, namun ini bukanlah bidik misi yang mahasiswanya juga diberikan uang saku. Hanya semacam beasiswa biasa dengan menggratiskan biaya kuliah, praktek, serta biaya akademik lain. Tapi untuk keperluan di luar itu mahasiswa sendirilah yang menanggunggnya. Maka setiap bulan, meski hanya beberapa ratus ribu, Bapak akan memberi uang saku pada Gavin.

Kondisi semacam inilah yang selama ini tidak pernah Gavin pikir sebelumnya. Sebagi anak sulung laki-laki, ia kerap merasa iri dengan teman-temannya yang sudah terlebih dulu bekerja. Bisa mandiri mendapatkan uang, sekaligus bisa membantu keluarganya saat dibutuhkan. Sebenarnya Gavin bukanlah anak yang suka berpangku tangan. Kala SMK, Gavin kerap ikut temannya bekerja serabutan, menjadi tukang stek pohon jeruk juga bantu-bantu di bengkel. Setelah kuliah pun, ia bekerja paruh waktu pada sebuah tempat print tugas dekat kampus, namun uang yang di dapatnya tidak seberapa. Hanya cukup untuk kebutuhan diri sendiri sekedar agar tidak meminta pada orang tuanya.

Setelah mereka berdua masuk kamar, Bapak dan Ibu melanjutkan pembicaraan bahwa mereka sebenarnya masih mempunyai uang tabungan. Tapi itu hanya cukup setidaknya untuk tiga bulan kedepan. Sisanya tidak tahu. Setelah resmi di pecat, Bapak pun tidak tahu harus bekerja apa lagi, mengingat kondisi saat ini sulit untuk mendapat pekerjaan.

“Apa selama ini aku hanya beban keluarga ya?.” Dalam gelapnya kamar, Gavin terus merutuki dirinya sendiri sembari merenung ngalor-ngidul akan apa yang harus ia perbuat sebagai anak tertua.

Seminggu kemudian, Bapak dan Ibu telah bersepakat untuk membuka usaha kecil-kecilan. Setelah dipikir-pikir, salah satu sektor usaha yang masih bisa diandalkan selama pandemi adalah sektor kuliner. Bapak dan Ibu akan mencoba peruntungan dengan membuka usaha kecil-kecilan berdagang kerupuk nasi. Mendengar hal itu Gavin dan Eri mengatakan untuk membantu setiap harinya. Selain itu, kakak-beradik ini menagatakan untuk membantu juga urusan penjualan kerupuk.

“Emangnya bisa?” tanya Ibu malah seperti tidak percaya pada kemampuan kedua anaknya.

“Bu ….” Bapak menyergah kata-kata istrinya. “Tidak baik merendahkan anak sendiri.”

Ibu lekas tersadar, ia meminta maaf pada Gavin dan Eri. Lantas menjelaskan pembagian tugas penjualan nantinya. Penjualan akan terfokus pada peran Ibu, sementara mereka berdua akan membantu distribusi ke warung-warung sekitar yang tempatnya agak jauh, mengantar pesanan dan promosi melalui media sosial.

Hari ke hari terus bergulir membentuk pekan, hingga sudah hampir satu bulan usaha kecil keluarga tersebut mulai mendapat kepercayaan konsumen. Pelanggan mereka sudah cukup banyak di kampung juga desa sebelah. Selain dijual mentah per kilo, kerupuk nasi ini juga di jual dalam bentuk matang yang dikemas. Kerupuk matang tersebut lalu dititipkan pada penjual sayur terdekat, juga warung kelontong dan warung makan.

Tapi Gavin masih merasa bahwa dirinya belum bisa maksimal membantu usaha orang tuanya ini. Ia merasa justru adiknyalah yang banyak membantu menjualkan kerupuk, khususnya kemasan matang. Eri memang punya banyak teman perempuan, otomatis memudahkannya dalam menawarkan produk pada teman-temannya. Selain itu, Eri lebih supel dari dirinya, karena selama ini Gavin hanya menawarkan kerupuk secara tidak langsung. Ia masih malu-malu berbicara banyak kepada orang lain. Gavin pernah menjualnya lewat grup penjualan facebook, namun berkali-kali diposting hasilnya nihil. Tidak ada yang tertarik meminang kerupuknya.

Esok harinya, saat ia bersepeda ke lapangan sore hari untuk menonton sepak bola. Gavin melihat Ana, teman SD namun beda kampung dengan dirinya. Berbeda dengan di kota yang aktivitasnya dibatasi ketat. Di desa olahraga sore seperti sepak bola saat ini masih ramai diadakan walaupun di tengah pandemi. Orang-orang yang menonton pun taat memakai masker, meski jaga jaraknya mereka abaikan. Sementara pemainnya tidak menerapkan protokol kesehatan sama sekali. Psikologi masyarakat pedesaan yang sederhana memang masih sulit diberitahu pentingnya mematuhi protokol kesehatan.

Ana sangat jarang terlihat di lapangan untuk menonton sepak bola. Bahkan seingat Gavin ia msih baru kali ini melihat Ana di lapangan setelah sekian purnama.

Ana dan Gavin dulunya juga satu SMK. Itulah mengapa ia masih berteman dengannya sampai saat ini. Setelah lulus, Ana memilih fokus membantu orang tuanya berjualan soto di pasar. Setelah Gavin kuliah, mereka jarang bertemu dan selanjutnya hanya menjadi penonton setia status WA. Ia baru teringat kalau Ana berjualan soto yang bisa ia manfaatkan untuk menawarkan kerupuknya untuk dititipkan di warung. Selain itu, Ana sudah sedari kecil membantu jualan, ia pasti berpengalaman untuk sekedar dimintai tips berjualan produk makanan.

“Ana,” sapa Gavin. Ia menghentikan sepedanya tepat di samping Ana yang tengah duduk sendirian di bangku beton. Di belakangnya ada beberapa orang yang menonton sambil duduk lesehan pada gundukan tanah tinggi yang membentang sepanjang lapangan.

Ana membuka maskernya menyambut saapaan Gavin dengan ramah. Mereka mengobrol panjang lebar setelah sekian lama tidak bertemu secara langsung. Hingga Gavin menawarkan kerupuk produksi orang tuanya untuk ditiipkan di warung Ana. Ana setuju, karena kerupuk nasi jarang dijajakan ke warung-warung. Saat ditanyai terkait tips berjualan, Ana menjawab sambil senyam-senyum. Ia tidak memiliki tips khusus bagaimana ia membantu berjualan selama ini, karena menurutnya hal itu mengalir begitu saja.

“Kenapa Vin tanya tips, kelihatannya kamu udah jago tuh nawarin produk.”

“Aku merasa masih kurang bisa bantu jualin aja sih. Justru adikku yang banyak bantu penjualan.” Secara tidak langsung Gavin malah curhat pada temannya itu.

“Jangan suka bandingin diri, kamu kan udah berusaha. lagian kerupuknya juga buatan sendiri, kamu dan adikmu kan bukan sales yang kejar target. Aku saranin kamu jual ke dalam pasar deh, baik kerpuk matang maupun yang mentah, pasti laku keras.”

Apa yang dikatakan Ana ada benarnya, namun wajah Gavin mengguratkan keraguan. Menawarkan pada orang yang dikenal saja membutuhkan waktu lebih baginya untuk menyiapkan diri, apalagi menawarkannya di pasar, yang mana orang-orangnya sudah makan banyak asam garam usaha dagang. Melihat Gavin yang tidak langsung menjawab dan malah terlihat ragu, Ana memahami bahwa mental Gavin belum sepenuhnya tertata ssebagai seorang penjual.

“Kamu bawa aja kerupuk matang sama yang mentah ke warung besok. Aku bantu tawarin ke pedagang pasar,” kata Ana sambil tersenyum.

“An ….” Bak melihat seorang bidadari yang menyelamatkannya dari kegelapan. Gavin menatap Ana lekat-lekat penuh rasa terima kasih.

“Ini ceritanya bukan romance lho Vin, masa kamu gitu aja udah baper.” Mereka berdua tertawa terbahak-bahak setalahnya.

***

Keesokan harinya Gavin membawa lima kilo kerupuk mentah, dan dua puluh bungkus kerupuk matang ukuran sedang. Lima kemasan ia titipkan di warung soto Ana, sementara lainnya ia bawa buat ditawarkan ke para pedangang pasar. Jarak pasar dengan desa mereka lima kilometer jauhnya. Maka saat Gavin mengatakan bahwa ada temannya yang bersedia membantu memasarkannya di pasar, orang tuanya menyambut baik hal itu. Karena selama ini penjualan secara intens masih terfokus di desa-desa terdekat.

Saat awal menawarkan kerupuknya, hanya ada beberapa pedagang saja yang mau menerima titipan. Itu juga yang kemasan matang lantaran bisa dicicipi langsung oleh konsumen. Sementara kerupuk mentah hanya diambil sedikit untuk melihat respon konsumen terlebih dulu. Meski kerupuk nasi jarang dijual, namun jika rasanya tidak sesuai ekspektasi pastinya akan sulit laku.

Setelah seharian mengitari pasar bersama Ana. Gavin memutuskan utnuk segera pulang lantaran harus mengerjakan tugas kuliah. Ia memberikan nomor teleponnya pada pedagang yang dititipi agar jika kerupuknya laku dan habis bisa langsung menghubunginya.

Satu minggu berselang, hanya ada dua pedagang dari lima pedagang yang menghubunginya untuk meminta stok ulang. Kali ini Gavin memutar otak lebih keras. Ia akhirnya menemukan ide untuk mnegubah kemasan kerupuk matangnya yang hanya platik tipis polosan dengan plastik yang lebih tebal. Ia juga mencetak label yang menarik meski bentuknya masih sederhana. Gavin juga meminta orang tuanya untuk mengecilkan ukuran kerupuk yang akan dijual matang agar muat lebih banyak.

Terobosannya kali ini berhasil. Penjualan kerupuk matangnya meningkat banyak karena dipandang lebih meanrik. Ditambah penambahan rasa-rasa lain semakin menarik minat konsumen.

Gavin meminta tolong lagi kepada Ana untuk membantunya menawarkan ulang pada para pedagang pasar dengan kemasan dan rasa baru ini. Kali ini ia memberikan satu kemasan secara cuma-cuma pada pedagang dan satu kemasan lagi sebagai tester. Hasilnya, penjualanya meningkat lebih baik dari sebelumnya meski konsumen menyarankan harus ada perbaikan rasa produk agar lebih enak dan pas.

Kini setelah satu bulan berselang, Gavin dan keluarganya terus mengembangkan inovasi kerupuk yang dijual matang. Inovasi yang pas dan mendapat atensi lebih dari konsumen dipertahankan. Lalu inovasi yang masih belum sempurna, terus diperbaiki. Mereka saat ini beralih fokus hanya pada penjualan kerupuk matang. Sementara kerupuk mentah akan dijual jika ada pesanan saja.

Setelah dua setengah bulan merintis usaha dari nol. Usaha kerupuk, keluarga kecil tersebut mulai stabil di pasaran. Mereka bisa mematahkan rasa khawatir akan rezeki yang ditakutkan surut selama pandemi melanda yang tanpa kejelasan berapa lama lagi akan berakhir. Karena sesungguhnya rezeki sudah diatur pasti oleh Allah SWT, dan tinggal kita sebagai hambanya mau untuk berusaha serta yakin akan jaminan itu atau tidak, meski di tengah pandemi sekalipun seperti saat ini.

Begitu pikiran manusia dibanjiri sugesti positif serta ketenangan menjalankannya, maka segala sesuatunya akan berjalan positif. Kalaupun ada kendala, pikiran yang positif akan cepat menemukan jalan keluarnya. Berbeda dengan seugesti negtif yang penuh kegusaran, tidak ada masalah pun akan nampak penuh masalah, dan tanpa disadari justru akan mengahncurkan diri sendiri .

Kini Gavin terfokus pada penjualannya di pasar serta mencoba merambah toko-toko modern. Sementara Eri berfokus pada penjualannya lewat media sosial. Karena selain berjualan kerupuk, Eri juga mulai berjualan produk lain hasil bekerja sama dengan temannya. Mereka berdua mulai terlaith menggeluti dunia usaha.

***

Sore hari ini sedang tidak ada sepak bola di lapangan. Sepak bola memang tidak diadakan setiap hari. Kalaupun ada, namun yang berkumpul tapi tidak cukup pemain, orang-orang akan menggantinya dengan permainan futsal ala kadarnya yang gawangnya dibentuk dari sepasang sepatu mereka sendiri.

Sore ini Gavin mengajak Ana untuk bertemu di lapangan. Setelah menunggu beberapa saat, Ana tiba dengan mengendarai motor matic-nya. Ia lalu memarkirnya di samping sepeda Gavin, kemudian duduk pada kursi beton tepat di samping temannya itu. Angin kencang di lapangan menghempas mereka dengan udara segar. Jajaran pohon kelapa di pinggir lapangan pun melambai-lambai mengikuti kemana arah angin bertiup.

“Ada apa Vin?” tanya Ana tanpa basa-basi setelah duduk

“Enggak, cuma mau berterima kasih kok. Berkat kamu, kan usaha keluargaku jauh lebih baik sekarang. Hehe.” Gavin menjawab sambil terkekeh.

“Biasa aja sih, kan emang harus saling bantu.” Entah mengapa kali ini Ana merasakan ada yang berbeda dalam benaknya begitu menatap Gavin.

“Ana, aku … gak papa kok An ini genrenya campuran−“

“Maaf, tapi aku udah dijodohin Vin,” tukas Ana memotong kata Gavin.

Gavin seketika tertunduk lesu mendengar apa yang Ana katakan. Dalam batinnya ia tidak percaya di zaman seperti ini, masih musim perjodohan.

“Canda kok, emang masih musim ya dijodohin” Ana menepuk pundak Gavin yang tertunduk.

Tapi sebenarnya tujuan Gavin mengajak Ana ke lapangan bukanlah untuk menyatakan perasaan atau hal-hal romantis lainnya.

“Dih, ge-er kamu. Lagian aku cuma mau memberikan kupon promo ini.” Gavin mengeluarkan dua buah kertas kupon. Salah satu trik marektingnya kali ini adalah beli dua bungkus akan mendapat kupon “Beli dua gratis dua” pada pembelian berikutnya. Kupon ini juga boleh di tukarkan sekaligus saat pembelian pertama, jadi totalnya pembeli harus beli tiga bungkus untuk mendapatkan bonus dua bungkus

Ia sengaja mengajak Ana bertemu di lapangan lantaran di lapangan inilah, ia dekat kembali dengan teman lamanya itu, yang kemudian Ana mau membantunya menjajakan kerupuk di pasar hingga usaha keluarganya terus berkembang sampai saat ini.

Cerita pendek oleh Zea Mays, 11 Januari 2021

Bagikan artikel ini:

WhatsApp

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *